Mengapa orang Indonesia membangun rumah kayu di atas air

Turis yang bepergian di Indonesia selalu menjumpai bangunan menakjubkan yang berdiri di atas panggung tinggi tepat di atas air. Rumah seperti itu dianggap tradisional bagi penduduk nusantara yang menderita banjir dan bencana alam lainnya selama berabad-abad.

Foto https://www.instagram.com/p/BtxhNZjFRHv/ Foto https://www.instagram.com/p/BtxhNZjFRHv/

Rumah hutan yang sempurna

Sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Mereka terlibat dalam peternakan dan pertanian, dan mereka membangun rumah sendiri dari bahan alami.

Karena tsunami dan banjir sungai musiman, daerah pesisir sering tergenang air. Agar bencana alam tidak mengejutkan penduduk, mereka menempatkan bangunan mereka di atas tumpukan yang cukup tinggi.

Biasanya dinding dan atap gubuk tersebut terbuat dari bambu.

Ini adalah bahan yang hampir universal untuk konstruksi — pucuk bengkok dengan sempurna dan menahan beban yang signifikan. Bambu tumbuh subur di sekitar desa dan datang hampir gratis.

Tumpukan tempat rumah berdiri terbuat dari kayu, dan di daerah berbatu terbuat dari batu. Lantainya juga dari kayu atau bambu, terkadang diolesi tanah liat dan ditutup dengan dahan.

Terlepas dari kesamaannya, rumah-rumah di berbagai pulau di nusantara sangat berbeda satu sama lain.

Misalnya, di Sumatera, ada ruang tersisa di bawah lantai untuk memelihara hewan ternak. Atap daun lontar memiliki bentuk yang khas, dan balok serta atap pelana rumah dihiasi dengan ukiran. Kadang-kadang bangunan bahkan dicat, karya seni seperti itu sangat menarik dan selalu menarik perhatian para pelancong.

Nyaman tapi tidak bagus

Foto https://www.instagram.com/p/CIf17-kJoXa/ Foto https://www.instagram.com/p/CIf17-kJoXa/

Sepintas, rumah adat orang Indonesia memang tampak seperti gubuk. Tidak ada air mengalir dan saluran pembuangan, listrik, gas, internet dan bahkan tangga. Hanya di gedung-gedung terkaya Anda dapat melihat beberapa ruangan. Makan malam biasanya disiapkan di dekat rumah, pakaian yang sudah dicuci dijemur, anak-anak kecil berlarian di sana.

Namun, penduduk setempat cukup optimis dengan cara hidup mereka. Orang-orang menyukai alam sekitarnya, komunikasi dan kesempatan untuk hidup, seperti banyak generasi nenek moyang.

Selain itu, rumah bambu dinilai cukup ramah lingkungan. Dindingnya bernafas dan pada saat yang sama melindungi dari angin kencang. Tumpukan setinggi 1,5 hingga 6 m menjadi penghalang bagi ular dan hewan pengerat kecil yang siap mendekati stok.

Bagaimana menurut Anda, apakah pembangunan gedung bertumpuk di pulau-pulau nusantara akan berlanjut atau rumah seperti itu akan segera tergantikan oleh teknologi baru? Tulis pendapat Anda di komentar.

Добавить комментарий

Ваш адрес email не будет опубликован. Обязательные поля помечены *